Cerpen: Dinda

Aroma rumput sehabis dipotong masih mewangi ketika kujejaki lapangan sepak bola di depan rumah bercat biru muda itu. Kembali terngiang di telingaku perkataan Bakar pagi tadi. ”Dinda masih meminta engkau kembali, Di. Dinda masih ingin engkau menjadi bagian kelurga kami. Jika engkau sudi, kembalilah. Binalah kembali keluarga kalian. Kasihan Rara besar tak beribu. Rahma besar tak berayah. Kalian harus mulai memikirkan hal itu."
Aku yakin dia hanya membela adiknya. Bakar sangat mencintai adiknya. Hingga sekarang belum mau menikah hanya gara-gara adiknya belum bahagia. Ah! Aku kembali larut dalam pikiran egoisku. Semakin aku sadari aku butuh teman untuk bercerita. Tapi itu berarti mengkhianati diri sendiri. Sepeninggal ayah dan ibu, aku harus menjadi orang tua buat adikku yang masih sekolah. Namun, Dinda tak setuju aku masih membiayai hidup adikku. Dinda hanya ingin nafkah yang kucari untuk kami saja, bukan untuk orang lain. Tidak! Ana bukan orang lain. Ana adikku dan aku tidak akan menelantarkannya. Ah! Kepalaku menjadi sakit. Badanku hampir limbung jika tidak cepat berpegangan pada tiang gawang.
Aku menyadari terlambat mengerti, aku paling tidak suka gadis manja. Pikiranku mengembara. Berseliweran pikiranku ke sana kemari, sampai-sampai teringat lelaki yang bekhutbah hari Jum'at kemarin. Bukankah dia teman masa kecilku. Tapi aku lupa lagi namanya. Sudah 15 tahun dia tidak di sini. Ketika pulang membawa arti. Tentu dia sudah berkeluarga pula. Kurutuki diri sendiri yang terus kacau menjalani hari. Ah! Apa pula hubungan lelaki itu dengan Dinda dan Bakar? Tidak ada.
"Bang Randi, cepat pulang, ada yang  mau bertemu Abang?" sms Ana membuatku tersentak, 2 jam aku bermenung di lapangan dari sehabis Ashar tadi. Hmm...siapa dia? Aku buru-buru dengan setengah berlari menuju rumah. Rasanya aku telah menjadi orang yang agak penting sore ini.
Sejak saat kuputuskan untuk pulang saja ke rumah dan kembali hidup bersama Ana, Dinda tidak hendak menyampaikan sendiri keinginannya. Hanya Bakar yang diandalkannya. Dia benar-benar wanita yang manja. Sedikit rasa sesal sudah mengenalnya menggelayut di hatiku. Aku tak mungkin kembali lagi. Aku sangat tidak suka ada campur tangan keluarga lain dalam keluargaku. Tapi Dinda selalu mengadu pada Bakar. Ini sangat tidak aku suka. Bukankah dulu kami saling berjanji untuk selalu berterus terang dalam segala hal. Dan Dinda mengingkarinya berkali-kali.
"Dinda?" aku kaget dan hampir berlinang air mata menatap wajah teduh itu. Sebenarnya Dinda wanita yang baik. Apa dia telah menyadari kenapa aku jadi begini? Dia ke rumah ini untuk menjemputku? Hendak meminta maaf atas semua yang terjadi?
Wajah teduh itu memucat dan menunduk. Tidak sadar kuhulurkan tangan menjemput bahunya yang mulai berguncang menahan tangis tapi kulepaskan lagi. Hanya itu. Aku tidak hendak berlama-lama hadir dalam kesedihan jiwa. Tidak kupeluk atau pun kurengkuh. Aku hanya terdiam di dekat pagar. Dinda belum mau masuk ke rumah. Sudah tiga minggu aku pergi. Dan Dinda tidak berubah. Sifat manjanya selalu ada untuk kuajak masuk dan kuperlakukan sebagai seorang 'nona'. Dinda...ah...Dinda. Setidaknya Dinda sudah mau berbicara sendiri denganku.
"Bang Randi, maafkan Dinda. Dinda tidak ingin Bang Randi pergi lagi dari rumah. Dinda ingin kita kembali hidup rukun. Dinda akan berusaha memegang janji Dinda, tapi Bang Randi jangan pergi lagi dari rumah."
Kutatap wajah Dinda. Di sudut matanya sudah menggenang air mata. Aku tak tahan. Kutundukkan wajahkku, tak dapat aku berkata-kata. Semuanya begitu sulit kuucapkan. Menggantung di lidahku. Akankah kumaki dia dengan kekuasaan sebagai seorang laki-laki? Itu bukan sifatku. Hendak kusuruh dia pergi. Dia masih isteriku dan aku sangat menyayanginya. Aku tak pernah ingin menalaknya. Aku sendiri bingung akan keputusanku pergi dari rumah. Hendak kurangkul dia dan membenamkan kepalanya ke dadaku. Aku yakin, kebekuanku akan mencair dan luluh.
"Dinda, pulanglah dulu. Abang masih ingin menenangkan diri. Abang tidak ingin menyakiti hati Dinda lagi. Jika Dinda tidak keberatan, beri waktu Abang seminggu. Insya Allah Abang akan kembali ke rumah." keputusanku mungkin mengagetkan dia. Dinda tipe wanita yang tidak suka membantah. Selama berumah tangga aku belum pernah berbuat kasar padanya. Masalah demi masalah kami selesaikan dengan diam. Tanpa banyak bicara. Jika perih ucapanku, tetap kukatakan dengan nada datar.
Dinda masih tersedu. Sementara aku susah payah menahan tangis. Dinda dan aku sama-sama punya pribadi pendiam. Pantang patah-mematahkan kata-kata hanya untuk memenangkan kehendak sendiri.
Gadis berbalut kerudung putih. Dulu Dinda sering kuledeki begitu. Sekarang Dinda masih menyukai kerudung putih. Tapi aku tak melihat lagi pancaran kegembiraan pada sosoknya. Allah, apakah aku harus menzalimi diri dan keluargaku terus? Bimbang kuantarkan Dinda sampai ke pintu. Dinda tak menoleh lagi sehabis mengucapkan salam.
Luluh! Luluh juga hatiku akhirnya. Berkejaran jatuh air mataku ke pipi. Sekali ini, kulampiaskan kekalutan jiwa. Wajahku sudah basah, mataku sembab, dan hidungku memerah. Dinda, sebenarnya Abang tak ingin begini. Abang hanya khawatir, jika Abang kembali, kita akan selalu bertengkar dan mempermasalahkan hal itu lagi. Dinda, Abang berjanji akan kembali. Abang akan kembali. Abang hanya butuh waktu sejenak untuk menata hati Abang.
"Ayah! Ayah kenapa menangis?"
Rara, anak sulung yang sangat dekat denganku dibanding ibunya. Aku sendiri agak heran mengapa Rara menangis ketika kutinggalkan dan minta ikut bersamaku. Akhirnya terpaksa Bakar mengantarnya ke rumah. Kupeluk Rara dalam diam. Bocah empat tahun itu, masih memandangku dengan kebingungan.
"Ayah kelilipan, sayang."
Aku berbohong demi menjaga hati Rara. Untunglah dia tidak bertemu dengan ibunya. Jika tidak, aku sangsi masih berada di sini. Barangkali aku sudah kembali ke rumah kami. Jiwa anak kecil selalu membuat kebekuan hati menjadi lebur. Aku membawa Rara berwudhlu. Suara adzan membuat hati menjadi syahdu. Alangkah indah jika hari ini kami berjamaah lagi, dan Dinda serta Rara yang baru belajar shalat mencium takzim tanganku sehabis shalat. Bahagia. Ingin benar aku kembali ke rumah. Dinda, Abang rindu Dinda, bisikku pada senja yang telah hampir memasuki malam.
Sehabis Maghrib itu pikiranku mulai berputar-putar tidak karuan. Aku bingung. Baru terpikir olehku, dengan siapa Dinda di rumah malam ini? Hanya dengan anak kami yang paling bungsu. Aku kalut. Namun tak mungkin aku pergi malam-malam begini dengan membawa Rara ke sana. Kalau kutinggalkan Rara pasti akan menangis. Kucoba menahan kegundahan hati dengan berdzikir. Mencoba menyerahkan keselamatan Dinda sepenuhnya kepada Allah.
Mataku mulai berkaca-kaca lagi. Perlahan setetes demi setetes air mata kembali bergulir membasahi pipiku. Ya Allah, Hamba telah zalim ya Allah. Meninggalkan anak dan isteri hanya untuk menenangkan diri. Lindungi mereka ya Allah. Tiga minggu berlalu, baru sekarang aku mencemaskan Dinda. Jika malam ini terjadi apa-apa pada dirinya, maka seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Dan Bakar, barangkali akan memusuhiku atau bahkan akan membunuhku.
Malam itu kuusahakan untuk tidak lelap dalam tidur. Mencoba membayangkan kegelisahan Dinda. Wajah sederhananya yang manja, teduh, dan matanya yang bening. Dinda terlalu lemah untuk kusakiti. Kembali terbayang keadaan Dinda ketika ke sini sore tadi. Aku terperanjat. Mata Dinda bengkak dan memerah. Apakah aku sudah sangat menyakiti hatinya? Apakah aku terlalu tega untuk memperlakukannya seperti ini. Abang akan kembali besok, Dinda. Akan kita semarakkan lagi rumah kita dengan kasih sayang dan keridhaan Allah.
Perlahan mataku mulai tertutup. Dalam tidur aku seperti melihat Dinda. Memakai jubah biru dan kerudung putih. Wajah teduhnya kembali hadir dan matanya kembali bening. Dinda tersenyum padaku. Kugapai tangannya. Sia-sia. Kucoba memanggilnya, namun hanya senyum yang diberikan padaku. Aku tak sanggup menggapai lagi. Seluruh tubuhku telah lemah dan akhirnya aku terjerembab. Aku takut kehilangan Dinda. Apa aku terlalu egois? Apakah aku terlalu memperturutkan hawa nafsu untuk dimengerti. Ya Allah...
* * *
Bakar kembali datang. Wajah sahabat yang telah menjadi kakak iparku itu agak sendu. Aku merasa harus menceritakan yang sebenarnya kepada Bakar. Selama ini Bakar belum tahu penyebab kepergianku. Aku tahu sifat Dinda, jika aku sudah marah dia tidak akan mengadukan apapun kepada abangnya kecuali kabar bahwa aku telah pergi dari rumah. Dinda isteri yang taat. Mengapa selama ini aku hanya melihat kelemahannya sebagai wanita yang manja terlebih kepada abangnya.
"Assalamu’alaikum, Ndi."
Sejuk, pagi ini sejuk sekali. Kupeluk Bakar seolah kami masih merasa menjadi mahasiswa, berada di kampus dan sedang semangat-semangatnya ikut forum keislaman. Sejenak kulupakan bahwa dia adalah kakak iparku, sekarang aku akan berbicara dengannya sebagai seorang teman.
"Aku tahu, aku telah salah..."
Belum sempat kuselesaikan ucapanku, Bakar menggelengkan kepalanya. "Ndi, sekarang tidak ada yang patut dipersalahkan. Kita akan mencari kebenaran bukan pembenaran. Jika kamu masih mau, pulanglah. Selesaikan urusan kalian dengan kepala dingin. Walau pun aku tidak tahu apa masalah  kalian yang sebenarnya karena Dinda tidak mau memberi tahu, tapi aku yakin kalian sudah terlalu dewasa untuk bersikap seperti ini."
Lama aku terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa lagi sebab itu juga sudah pemikiranku semalam. Bakar kembali menyambung perkataannya, "Dinda sekarang sakit, Badannya panas. Aku tak sanggup melihatnya sakit seperti ini. Pulanglah, Ndi. Dinda sangat membutuhkanmu."
Aku terkejut. Dinda? Dinda sakit? Selama ini jika Dinda sakit, akulah orang yang harus selalu berada di sisinya. Bukan abangnya, atau pun ibu mertuaku. Tiba-tiba aku berdiri dari kursi.
"Mau kemana, Ndi?"
"Aku akan pulang, Bang." jawaban singkatku membuat Bakar kaget. Baru hari ini aku memanggil Bakar dengan sebutan 'abang'. Ditepuknya bahuku.
"Mana Rara? Ayo kita berangkat! Aku bawa motor. Kita berboncengan saja."
Dinda. Di perjalanan hanya wajah Dinda yang menahan sakit muncul di pelupuk mataku. Aku jadi merindukan wajah Dinda yang manja. Mataku berkabut. Lantas kembali bergulir jatuh air mataku. Isakku melebur dengan bunyi kendaran di jalan raya. Syukurlah! Bakar tidak akan mendengar tangisan cengengku. Cukuplah ketika muhasabah di acara forum keislaman saja Bakar melihatku menangis. Wajah Dinda kembali terbayang olehku. Kali ini pada wajah sederhananya yang manja terulas senyum yang sangat manis. Ah, Dinda...

Most Pleasant Place...
23 February 2007
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yulmaida al Manthani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger