Sungguh aneh malam ini aku
bertemu denganmu
Duhai gadis yang dahulunya
dipikat dan dipinang
dalam sebuah istana
Berdebar-debar rasa jiwa
menanti saat itu,
Dimana engkau tak jua datang
menyatakan restu untuk takdirku
Aku termenung, di kuburmu
semilir angin mengekang anak rambutku
Ada yang hilang dalam
langkahku, tercium semerbak yang kadang menghilang
Aduhai, aku rindu padamu
gadisku, ruhmu telah berlari dalam dadaku
Setapak tak sadar aku
bergumam, menitipkan salam seorang pangeran
Dari negeri yang bergelut
siluman hitam
Terhantam juga ingin
robohkan, sekat kami denganmu wahai gadisku
Begitu lama bertemu, bukan
kami tak sayang padamu
Begitu lama mendekap lagi,
bukan kami tak cinta padamu
Engkaulah yang kami rindukan
sepeninggal tapak kaki terakhir
Kami luka teringat dua
malaikat akan menggoreskan sakit pada jiwaku
Aduhai gadisku, hendak kami
papah dalam sepimu
Namun kami masih menghuni
negeri siluman
Saat bertelekan tapak tangan
di atas segi empat ini
Aku masih rindu padamu
Sambil menyisipkan salam dari
pangeran
Beliau ingin bertemu
Akupun
Aduhai gadis yang dahulu
dipinang
Selembut tanganmu hadir lagi
malam ini
Sedang detak jantungku masih
punya senandung sunyi
Ingin menjengukmu di sana,
menuju puncak yang penuh rahasia
Luhur jiwamu melimpah wahai
abdi ilmu
Gadis berkerudung yang
dipinang untuk kedua kalinya
di istana berbeda
Padang, Juli 2010
Post a Comment