Aku punya kejutan untukmu,
katamu ketika kabut masih menebal di puncak bukit kala itu.
Dedaunan dan tanah masih
basah, tapi engkau sudah berdiri di depan pintuku.
Datanglah ke rumah sore ini,
akan kusuguhi engkau kopi paling enak sepanjang pertemanan kita, sambungmu.
Dengan safari coklat, engkau
mengundangku
Di kursi bus antar kota
pertama bertemu
Engkau menawariku sepotong
roti dan seteguk air
Bukan magrib biasa di
perjalanan
Karena roti dan air untuk
berbuka puasa
Bagimu untuk terakhir kalinya
Ramadhan teramat syahdu yang
mungkin pernah kudapati
Sejenak tiba di surau di
pemberhentian
Bahuku dan bahumu saling
beradu
Aku melihatmu meneteskan air
mata
Syahdu, karena aku baru bertemu
Seandainya saja semua bulan
adalah Ramadhan, begitu katamu
Di sepanjang roda
menyeret-nyeret badan bus
Aku merasa menikmati air dari
sebuah telaga
Di telingaku ribuan takbir
terpanyungi sayap malaikat
Merdu menyusup dalam sanubari
Menghantam luluh beku jiwa
Seperempat jam setelah
menyalati diri sendiri
Melaju aku memenuhi
undanganmu
Dalam zikir perasaanku di
Ramadhan syahdu
Gigil jiwaku saat pandangku
beradu kain hitam
Butiran hangatku menetes
seperti Ramadhan terakhirmu
Post a Comment