Latest Post

About Me

Hanya seorang pejalan yang ingin mencoba untuk berbagi di dunia fana, tempat singgah sementara, tempat mengumpulkan bekal di kehidupan yang kekal
Maka dengarlah sabda Junjungan kita "Jadilah di dunia ini laksana orang asing (gharibun) atau orang yang sedang melintasi jalan. Jika engkau berada di sore hari, jangan tunggu datangnya pagi. Jika engkau berada di pagi hari, jangan tunggu waktu sore. Manfaatkan waktu sehat sebelum sakitmu, dan waktu hidup sebelum matimu." (Riwayat Bukhari)

Seseorang yang sedang belajar untuk hidup, dan hidup untuk belajar. Semoga berkenan.

Yulmaida al Manthani


 

Sajak Nelayan waktu tengah bulan


Rembulan dalam perahu
Pisau hitam dipaku di tepi
Dipangku sepi

Rembulan dalam perahu
Sirip menyanyi ke dalam
Tengah waktu sebulan

Rembulan
Cahaya menerang
Memantul dalam perahu

Padang, November 2010
 

Lelaki Bulan


Engkau
Lelaki bulan
Hidup di pelataran kelam
Tegak tengadah di sepuh usia
 

Pinangan kedua untuk sang gadis


Sungguh aneh malam ini aku bertemu denganmu
Duhai gadis yang dahulunya dipikat dan dipinang
dalam sebuah istana
Berdebar-debar rasa jiwa menanti saat itu,
Dimana engkau tak jua datang menyatakan restu untuk takdirku
Aku termenung, di kuburmu semilir angin mengekang anak rambutku
Ada yang hilang dalam langkahku, tercium semerbak yang kadang menghilang
Aduhai, aku rindu padamu gadisku, ruhmu telah berlari dalam dadaku

Setapak tak sadar aku bergumam, menitipkan salam seorang pangeran
Dari negeri yang bergelut siluman hitam
Terhantam juga ingin robohkan, sekat kami denganmu wahai gadisku
Begitu lama bertemu, bukan kami tak sayang padamu
Begitu lama mendekap lagi, bukan kami tak cinta padamu
Engkaulah yang kami rindukan sepeninggal tapak kaki terakhir
Kami luka teringat dua malaikat akan menggoreskan sakit pada jiwaku
Aduhai gadisku, hendak kami papah dalam sepimu
Namun kami masih menghuni negeri siluman

Saat bertelekan tapak tangan di atas segi empat ini
Aku masih rindu padamu
Sambil menyisipkan salam dari pangeran
Beliau ingin bertemu
Akupun

Aduhai gadis yang dahulu dipinang
Selembut tanganmu hadir lagi malam ini
Sedang detak jantungku masih punya senandung sunyi
Ingin menjengukmu di sana, menuju puncak yang penuh rahasia
Luhur jiwamu melimpah wahai abdi ilmu
Gadis berkerudung yang dipinang untuk kedua kalinya
di istana berbeda

Padang, Juli 2010
 

Rumahmu di suatu sore


Aku punya kejutan untukmu, katamu ketika kabut masih menebal di puncak bukit kala itu.
Dedaunan dan tanah masih basah, tapi engkau sudah berdiri di depan pintuku.
Datanglah ke rumah sore ini, akan kusuguhi engkau kopi paling enak sepanjang pertemanan kita, sambungmu.
Dengan safari coklat, engkau mengundangku

Di kursi bus antar kota pertama bertemu
Engkau menawariku sepotong roti dan seteguk air
Bukan magrib biasa di perjalanan
Karena roti dan air untuk berbuka puasa
Bagimu untuk terakhir kalinya
Ramadhan teramat syahdu yang mungkin pernah kudapati
Sejenak tiba di surau di pemberhentian
Bahuku dan bahumu saling beradu
Aku melihatmu meneteskan air mata
Syahdu, karena aku baru bertemu
Seandainya saja semua bulan adalah Ramadhan, begitu katamu

Di sepanjang roda menyeret-nyeret badan bus
Aku merasa menikmati air dari sebuah telaga
Di telingaku ribuan takbir terpanyungi sayap malaikat
Merdu menyusup dalam sanubari
Menghantam luluh beku jiwa

Seperempat jam setelah menyalati diri sendiri
Melaju aku memenuhi undanganmu
Dalam zikir perasaanku di Ramadhan syahdu
Gigil jiwaku saat pandangku beradu kain hitam
Butiran hangatku menetes seperti Ramadhan terakhirmu

Padang, September 2010
 

Menunggumu

Menunggumu…
Harap lekas berkata lagi
Sedang riangnya waktu berkeliaran di depan jasad ini

Menunggumu…
Seperti rintik yang mengawali hujan
Sebentar turun dan reda lagi

Menunggumu…
Ada yang kembali ke sini
Tapi sebelummu datang
Dia bilang engkau tak sempat menghadiri pemakaman.

Padang, Oktober 2009
(Enam hari pasca gempa Sumbar)
 

Ketika Tuan Kembali


Sekembalinya tuan ke negeri ini
Dalam gumam yang pelan-pelan kami lantunkan
Senandung yang menari di atas genangan
Dalam subuh berpintukan fajar menemukan kehangatan mentari
Tapi tercabik jua bendera
Tak lama sebelum tuan kembali

Di hari-hari bersejarah bumi ini
Sedang hari  mengeluh letih
Menaungi serombongan ternak yang rusuh karena cuaca panas
Tuan datang kembali
Ke bumi yang penat menopang neraka dunia ini
Sambil ternganga mendapati kami mencekik diri

Hai Tuan yang telah lama pergi dan baru kembali!
Jumpailah rumah tuan ini
Kami menanti
Sambil terus mencekik diri

Padang, April 2010
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yulmaida al Manthani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger