Janji si Telaga


Akulah telaga dan engkau,
Gunung karang yang kokoh
Di ketinggian engkau menengok
Pantulan cahaya masa lampau
Ketika suatu hari kita berdialog
Akulah yang berair tenang
Dan keringat mengalir melewati celah bebatuan
Siang yang terik dan betapa gerahnya dirimu

Akulah telaga dan engkau,
Si coklat yang kehilangan kesegaran
Aku ingin rubuh ke dalammu, ucapmu
Menolakmu adalah kesalahan,
Aku ingat janji telaga
Akulah yang akan memberi kesegaran sang karang
Di saat terik mencium ubun-ubunnya

Tapi selamanya sang karang jauh tinggi di atasku
Akulah yang bernaung di bawahnya meski tak purna

Aku hanyalah telaga
Siang ini engkau hendak rubuh ke dalamku
Tapi malam, engkau tegak dalam keangkuhan
Tak perlu malu, aku pun hanya telaga
Mungkin kerontang di kemarau kali ini

12 Maret 2011
 

Kemarau belum purna


Akal kita yang telah hilang
Dedaunan kembali menguning di kemarau kali ini
Menua dan akhirnya luruh disapu angin
Kita masih sunyikan diri selepas subuh tadi
Demi embun, aku tidak ingat pagi keberapakah pertemuan kita?

Akal kita yang telah mati
Sejak mengabdi pada sajak, terpesona hingga lupakan
Dedaunan hijau masih setia menaungi

Kemarau belumlah purna di kota ini
Entah di kotamu

9 Maret 2011
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yulmaida al Manthani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger