Yulmaida
Al Manthani (FLP Sumatera Barat)
“Uda belum
hendak menikah?”
Aku bertanya
pada lelaki itu dengan hati-hati.
“Setiap lelaki
dan perempuan dewasa memiliki keinginan untuk menikah, Li. Kita cuma disuruh
berikhtiar dan berdoa.”
Kali terakhir
aku bertanya tentang pernikahan kepadanya. Aku tidak berani lagi. Selain
lancang, aku juga akan menyakiti hati lelaki itu.
***
Sebagai lelaki aku tak pungkiri pesonamu, tetapi
sebagai lelaki akupun memiliki harga pada diriku yang patut engkau perhitungkan.
Jika keindahanmu masih engkau utamakan, aku akan berbalik pergi tanpa peduli
aku akan kehilangan kesempatan memilikimu. Maka kemarilah bersamaku, tinggikan
mulia pribadimu hingga aku relakan darah kita tumbuh kembangkan generasi.
Sebagai lelaki, pengorbanan apapun akan aku usahakan
agar engkau menjadi ratu dalam hatiku. Menjadi pendamping dan temanku berlayar.
Tidak menjadikan raja sesiapapun yang akan runtuhkan harga yang telah aku
bangun ini. Tetapi maaf bila engkau menghamba pada kemilaunya dunia, berikan
aku waktu untuk berfikir ulang lagi tentang keseriusanku ini. Mengapa engkau
bekerja sebagai petani? Kembalilah ke kota, dan kita jadikan hidup kita lebih
modern, itu permintaanmu. Maaf, usahamu menjadikanku pelindung sepertinya akan
sia-sia.
Maka sebagai lelaki, kutegaskan sekali lagi
kepadamu, biarlah aku gagalkan usaha ini dari awal sebelum memintamu kepada
pelindungmu, ayah ibumu. Aku sudah memikirkan kehendak hati untuk bersahaja.
Tidak denganmu. Karena kutahu hidup sesudah ini mungkin akan menyiksamu.
Tetaplah di sana. Untuk menunggu lelaki kota meminangmu.
Bunyi cangkul
yang sesekali beradu dengan bebatuan. Musik yang bersumber dari aliran air di jenjang-jenjang sawah
meninabobokan kerbau di kubangan. Selalu, si pencari kutu itu hinggap di badan
tegapnya. Aih jalak itu, dia berdiskusi dengan inangnya. Meski sang inang
sedang bermimpi. Tapi lagaknya menolehkan kepala ke belakang dengan kaki
terlipat. Aku tahu bahasa binatang lebih diplomatis. Buktinya si jalak cepat
diterima. Simbiosis yang menarik. Ingin aku kabarkan kepada pemilik cangkul
bahwa mereka tidak bodoh. Mereka cerdas memahami keinginan.
“Sebentar lagi,
Uda. Nasi sedang ditanak amak”
Si pemilik
cangkul hanya tersenyum. Aku selalu kesulitan menerjemahkan maknanya. Bukankah
senyum itu makna keikhlasan. Lalu mengapa di buku hariannya yang sempat terbaca
olehku, aku temukan firasat buruk tentang ketidakrelaan penderitaan. Seperti
benang basah yang kepayahan untuk tegak. Aku menjadi takut jikalau si pemilik
cangkul itu sepuluh tahun lagi akan menjadi benang yang basah. Gumamku disertai
pandang ke langit. Seekor elang menukik laksana sebuah kilatan hitam.
“Tolong bawakan
cangkul Uda, Uda mau memeriksa pautan kabau
dulu.”
Seperempat jam
kemudian kami sudah duduk berhadap-hadapan di atas tikar yang digelar amak.
Amak, perempuan keibuan pengganti orangtuaku yang terlebih dahulu dipanggil
dari dunia ini. Bagiku amak lebih dari sekadar ibu. Suatu hari aku bergurau
tentang pengganti apak. Maka amak menarik kupingku dengan lembut. Tidak sakit tapi
aku merajuk sambil memegang tangan beliau.Tapi jika orang tua menahan kehendak,
amakpun begitu. Seraut kenormalan kembali hadir. Amak wanita istimewa bagiku,
juga bagi lelaki cangkul itu. Ah, rasanya terlalu kasar bila kujuluki dia
lelaki cangkul. Tapi permintaannyalah yang memberanikan diriku menjulukinya
begitu.
“Uda bukan lelaki
hebat, Li. Uda pernah ditipu orang dalam perdagangan. Uda pernah ditolak kerja
di sebuah perusahaan karena bercerita masalah keluarga ketika wawancara kerja.
Uda pun pernah menggigil ketika naik mimbar saat disuruh jadi khatib Jum’at.
Namun uda tidak akan menggadaikan prinsip hanya untuk memulai berlayar di
samudera luas dengan seseorang. Bagi uda cukuplah kesempatan demi kesempatan
berlalu dengan indah tanpa dipaksakan memasukinya hanya karena cemas tidak
memperolehnya lagi. Uda bangga memikul cangkul ketika berjalan. Uda bangga
mengayunnya. Uda tidak ingin hidup uda diatur keinginan orang.”
Dalam. Begitulah
lelaki cangkul itu. Akankah lelaki itu sepuluh tahun lagi menjadi benang basah
tanpa bisa memasuki lobang jarum? Akupun bermimpi menatap lelaki yang berdialog
hanya dengan panggang matahari itu menjahit luka-luka jiwa. Dengan cepat
kuhabiskan nasi di atas piring lalu bersendawa kekenyangan. Lelaki cangkul itu
menegurku pelan lalu mengajakku shalat Zuhur di mesjid. Dengarlah kawan, lelaki
ini didikan amak. Mungkin engkau tidak percaya, dulu dia pernah hampir OD dan
menjadi penghuni pusat rehabilitasi.
“Uda pernah
minum alkohol, Li. Uda pun pernah makai.
Tapi sekarang uda sudah pecahkan gelasnya. Sekarang Uda minum dengan
tempurung.”
“Benarkah, Da?”
tanyaku pura-pura bodoh.
“Tentu saja
tidak.”
Kami pun
tertawa. Barangkali saja seperti minum air daun kawa yang dihidangkan dengan
tempurung kelapa lengkap dengan beberapa potong bika. Hidangan khas salah satu
tempat di daerah Lima Puluh Kota.
Tiga bulan yang
lalu sekembalinya dari Jatinangor, aku sibuk mencari kerja ke sana kemari.
Menulis berpuluh-berpuluh surat lamaran kerja. Aku sering melontarkan candaan
kepada uda.
“Sudah kuliah,
kok makin merasa bodoh ya, Da? Jangan-jangan pengetahuanku diserap dosen.”
“Nyangkul aja,
Li.”
“Ogah ah.”
“Lho, kenapa?
Halal lho, Li.”
“Uda akan kalah
saingan. Aku bisa jadi lelaki cangkul nomor satu di kampung ini.”
Aku dan lelaki
melankolis itu sama-sama tertawa. Entah menertawakan apa. Kesedihan terasa
sirna sebentar akibatnya.
***
Sebagai lelaki, bukankah sudah kusampaikan niat
mulia ini. Aku tentang dengan berani mata ayahmu. Aku katakan, akan
menggantikan posisi dan peran beliau terhadapmu. Terlalu lancangkah permintaan
ini? Kuhormati engkau sebagai wanita yang berasal dari tulang rusukku ini.
Sebagai lelaki, ingin kujadikan engkau cahaya rumahku kelak. Bagian mana yang
belum engkau mengerti tentang keinginan ini dan hidup bersahaja yang kujanjikan?
Kerudungmu membuatku tidak tega menvonis sesuatu yang buruk tentangmu. Tapi
ingin kukatakan, tak akan ada perhiasan untuk pergelangan tangan dan telingamu
yang selalu tertutup itu. Tak bisa kujanjikan kehidupan yang bahagia, tapi aku
menjajikan akan berusaha membangun kebahagian. Dan sebagai lelaki, aku wajib
melindungimu dari kesedihan. Mungkin, jika engkau sedia jadi tempat berbagiku.
Aku tahu lelaki
itu sedang bersenandung di hatinya. Di atas batu besar di tengah sawah yang
sudah selesai dipanen. Kira-kira jam sepuluh dia akan istirahat melepas lelah
di sana. Kadang-kadang dia pulang sebentar ke rumah untuk shalat Dhuha. Aku
juga tahu ada sebuah harapan yang sedang meledak-ledak di dalam dirinya. Tidak
pernah tergurat di dahi hitamnya segaris keputusasaan pun. Dan sebagai seorang
adik, suatu keharusan bagiku untuk membantunya mengusahakan harapan itu.
Inilah yang
kusebut benang basah, saat kudengar sendiri dari kedua bibirnya yang sudah
bebas nikotin itu pernyataan tidak ingin lagi. Aduhai, alamat mana yang harus
kupercaya? Pernyataan ini ataukah sorot keyakinan dari matanya itu. Yang jelas
suatu hari aku menyaksikannya kembali mengenakan kemeja batik dan celana hitam
polos. Ketika kutanya, dijawab dengan kerling mata penuh makna. Kusimpulkan,
sebenarnya aku tidak perlu bertanya. Dia berusaha lagi. Doaku mengalun pelan
untuk keberhasilannya.
Entah yang
keberapa kalinya, kulihat raut kekecewaan sepulangnya lelaki itu dari rumah
yang dituju. Aku dan amak tak berani bertanya sebab kami sudah sama-sama tahu apa
yang harus dilakukan. Kukunci seluruh jendela saat azan magrib berkumandang
dari menara masjid, mengetuk pintu kamarnya serta mengajaknya ke masjid. Lelaki
itu, akhirnya menjadi semakin tahu usia pelan-pelan merambat naik secara
vertikal, mengurangi peluang demi peluang.
***
Ketika usia ini sudah memasuki kepala empat, lampu-lampu
kejayaan masa muda satu persatu mulai padam. Kesempatan untuk mencari semakin
menjadi suram. Masa depanku terlalu buram untuk kulukis lagi. Tak banyak yang
bisa kuharapkan selain menanti pertemuan. Entah dengan siapa? Kriteria demi kriteria
menjadi mengerucut. Ataukah mestikah kusederhanakan lagi demi mendapatkan
seseorang yang menjadi penawar rasa sakitku. Yang akan mendidik anak-anak
kelak.
Meski aku pernah surut untuk tetap memiliki
kehendak, tetapi sebagai lelaki aku telah lama menjadi baja. Tidak menjadi
tersiksa dengan bantingan dan deraan. Baja itu semakin kuat. Tidak peduli lagi
rasa sakit yang ada. Meski baja itu diam, tapi aku ingin orang-orang tahu,
batinku tidak diam. Aku masih berfikir untuk mendapatkan seorang bidadari.
Barangkali pada masa-masa terakhir.
Cuti kerja tahun
ini kumanfaatkan untuk membawa istri dan si kecil Farah ke rumah almarhum amak.
Lelaki itu, berwajah semakin cerah. Candanya juga menjadi lebih renyah. Digendongnya
Farah dengan wajah bersinar dan mencium pipinya berulang kali. Rasa hendak
turun air mataku saat itu juga. Aku masih mengetahui satu hal. Lelaki itu tidak
pernah putus berharap.
Belum lekang di
ingatanku keadaan lelaki itu tiga tahun yang lalu setelah amak meninggal. Kuyu,
tirus, pendiam, dan lebih sering mengurung diri di bilik. Sering aku dapati
lelaki itu menulis catatan hariannya di atas kasur lalu kemudian tertidur
menelungkup. Terkadang harus kubangunkan lelaki itu untuk mengisi perut.
Ataupun hanya sekedar memperbaiki posisi tidurnya yang menyesakkan dada itu.
Kukhawatiri kesehatannya hingga aku putuskan untuk melepaskan kesempatan bekerja
di sebuah perusahan kimia di Bandung.
Sebelum aku
menikah, kuminta kerelaan hatinya untuk kudahului. Lelaki itu hanya menepuk
pundakku seraya berkata, ”Jangan khawatirkan Uda. Uda tidak pernah merasa
cemburu pada takdir orang lain.”
Setelah menikah
pun aku harus pamit padanya untuk meninggalkan kampung halaman. Meski masih kukhawatiri
kondisinya yang sangat labil itu. Kalimat yang sama keluar lagi dari mulut
lelaki itu. Aku tidak menyadari butiran hangat telah mengelinding di pipiku.
Tetapi lelaki tidak boleh menangis. Hanya wanita yang boleh menangis.
Cuti kali ini
akan kutunaikan keinginan untuk mewujudkan harapannya itu. Kubawakan foto
seorang sahabat. Secara fisik sesuai kriteria. Menggunakan kerudung dan
memiliki pergaulan yang baik. Yang pasti, shalatnya tidak pernah tinggal.
Kriteria yang cukup simpel barangkali. Benang basah itu telah mengering. Dia
bersiap memasuki jarum dan menjahit luka-luka itu. Kupersiapkan keberangkatan
lelaki itu ke kota tempat aku bekerja. Kuhubungi sahabat itu untuk bersiap
melakukan ta’aruf singkat. Lelaki itu tetap gagah, aku yakinkan kota kembanglah
tempat sang lelaki bertemu jodohnya.
“Uda yakin?”
bodohnya aku masih bertanya.
“Yakin dengan
apa,Li?” lelaki itu balik bertanya sambil tetap menggendong si kecil Farah yang
semakin akrab saja dengannya. Jemarinya mengelus-ngelus kepala Farah dengan
lembut. Aku terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang pas. Meski akhirnya aku
tidak pernah menjawab pertanyaan itu.
“Li, uda tidak
memaksa kalau harus merepotkan adik uda. Bukankah Uda sudah kenyang dengan
penolakan-penolakan? Uda tidak pernah lagi merasakan lapar, Li. Setiap hari
memang Uda berdoa dipertemukan dengan jodoh uda. Uda berusaha mengerucutkan
kriteria. Tapi Uda tidak salahkan takdir bila akhirnya uda memang harus
sendiri. Jika kali ini uda gagal. Uda tidak menyesal pernah mencoba.”
“Semoga kali ini
berhasil, Da.”
“Amin.”
Dan si burung
besi pun membelah angkasa menerobos awan putih.
***
Di usia
43 tahun ya Allah, akhirnya hamba akan menyempurnakannya. Sesuatu yang tidak
lagi hamba fikirkan bisa terwujud. Terimakasih ya Allah, telah engkau
perkenankan hamba bertemu dengan si pemilik senyum manis itu. Selesai akad akan
kubisikkan di telinganya, “Engkaulah bidadari yang akan lahirkan cinta di bawah
atap rumah kita, di sisa usia.” Romantisme yang terlambat, namun aku bergetar
menanti waktu itu tiba.
“Fadli.”
“Ya, Da?”
“Satu hari lagi,
ya?”
Kudongakkan
kepalaku menatapnya. Lelaki itu duduk di sampingku yang menatap kolam ikan di
samping rumah. Aku tahu apa yang dirasakannya. Dua tahun yang lalu aku juga
merasakan hal yang sama. Meski aku termasuk lelaki yang terlambat menikah.
Sepertiku dulu, lelaki itu juga bisa tersipu. Wajahnya berseri memerah. Rasa
gugup yang wajar barangkali. Besok, jiwa lelaki inilah yang paling bahagia di
atas bumi ini.
Beberapa hari
ini kurasakan perubahan besar dari diri lelaki itu. Lebih terbuka, sering
bercerita, mendahului obrolan, dan selalu tersenyum. Karakter asli yang
bersembunyi di dalam dirinya selama ini dengan sangat rapi. Lelaki yang suka bercerita
kepada buku hariannya itu, satu hari lagi akan meniadakan kesendiriannya.
***
Dedaun telah berguguran semenjak tanah merah basah
ini ditinggal penta’ziah yang berbalik pulang. Aku tahu ini purnama terakhir
bagiku. Setelah ini tak akan kubiarkan keinginan itu muncul lagi. Biarlah
menjadi catatan sunyi yang diterbangkan angin usia. Telah tenggelam purnama
seiring perjalanan hidup yang tinggal beberapa langkah lagi.
Teman, hari bersejarah
itu memang tiba. Bersejarah baginya dan juga bagiku. Bersejarah untuk dikenang
karena lelaki itu akan mengetahui maksud Allah menjadikannya tetap membujang
seumur hidup. Sang gadis sahabatku itu, diambil pemiliknya lewat sebuah
serangan jantung, pagi sebelum akad dimulai. Dan sang lelaki, sejak saat itu
mulai sakit-sakitan. Mungkin benang basah itu benar-benar telah hanyut karena
gagal bertemu jarumnya.
Pertanyaan yang
sedari dulu tetap menghuni ruang batinku tentang dua orang yang telah memiliki
niat suci untuk menikah namun terhalang ajal. Jika tidak di dunia, mungkinkah
mereka bersatu di sana? Aku berharap kelak mereka berjumpa untuk menunaikan
niat yang dulu tertunda.
Padang,
26 Maret 2011