Sajak Nelayan waktu tengah bulan


Rembulan dalam perahu
Pisau hitam dipaku di tepi
Dipangku sepi

Rembulan dalam perahu
Sirip menyanyi ke dalam
Tengah waktu sebulan

Rembulan
Cahaya menerang
Memantul dalam perahu

Padang, November 2010
 

Lelaki Bulan


Engkau
Lelaki bulan
Hidup di pelataran kelam
Tegak tengadah di sepuh usia
 

Pinangan kedua untuk sang gadis


Sungguh aneh malam ini aku bertemu denganmu
Duhai gadis yang dahulunya dipikat dan dipinang
dalam sebuah istana
Berdebar-debar rasa jiwa menanti saat itu,
Dimana engkau tak jua datang menyatakan restu untuk takdirku
Aku termenung, di kuburmu semilir angin mengekang anak rambutku
Ada yang hilang dalam langkahku, tercium semerbak yang kadang menghilang
Aduhai, aku rindu padamu gadisku, ruhmu telah berlari dalam dadaku

Setapak tak sadar aku bergumam, menitipkan salam seorang pangeran
Dari negeri yang bergelut siluman hitam
Terhantam juga ingin robohkan, sekat kami denganmu wahai gadisku
Begitu lama bertemu, bukan kami tak sayang padamu
Begitu lama mendekap lagi, bukan kami tak cinta padamu
Engkaulah yang kami rindukan sepeninggal tapak kaki terakhir
Kami luka teringat dua malaikat akan menggoreskan sakit pada jiwaku
Aduhai gadisku, hendak kami papah dalam sepimu
Namun kami masih menghuni negeri siluman

Saat bertelekan tapak tangan di atas segi empat ini
Aku masih rindu padamu
Sambil menyisipkan salam dari pangeran
Beliau ingin bertemu
Akupun

Aduhai gadis yang dahulu dipinang
Selembut tanganmu hadir lagi malam ini
Sedang detak jantungku masih punya senandung sunyi
Ingin menjengukmu di sana, menuju puncak yang penuh rahasia
Luhur jiwamu melimpah wahai abdi ilmu
Gadis berkerudung yang dipinang untuk kedua kalinya
di istana berbeda

Padang, Juli 2010
 

Rumahmu di suatu sore


Aku punya kejutan untukmu, katamu ketika kabut masih menebal di puncak bukit kala itu.
Dedaunan dan tanah masih basah, tapi engkau sudah berdiri di depan pintuku.
Datanglah ke rumah sore ini, akan kusuguhi engkau kopi paling enak sepanjang pertemanan kita, sambungmu.
Dengan safari coklat, engkau mengundangku

Di kursi bus antar kota pertama bertemu
Engkau menawariku sepotong roti dan seteguk air
Bukan magrib biasa di perjalanan
Karena roti dan air untuk berbuka puasa
Bagimu untuk terakhir kalinya
Ramadhan teramat syahdu yang mungkin pernah kudapati
Sejenak tiba di surau di pemberhentian
Bahuku dan bahumu saling beradu
Aku melihatmu meneteskan air mata
Syahdu, karena aku baru bertemu
Seandainya saja semua bulan adalah Ramadhan, begitu katamu

Di sepanjang roda menyeret-nyeret badan bus
Aku merasa menikmati air dari sebuah telaga
Di telingaku ribuan takbir terpanyungi sayap malaikat
Merdu menyusup dalam sanubari
Menghantam luluh beku jiwa

Seperempat jam setelah menyalati diri sendiri
Melaju aku memenuhi undanganmu
Dalam zikir perasaanku di Ramadhan syahdu
Gigil jiwaku saat pandangku beradu kain hitam
Butiran hangatku menetes seperti Ramadhan terakhirmu

Padang, September 2010
 

Menunggumu

Menunggumu…
Harap lekas berkata lagi
Sedang riangnya waktu berkeliaran di depan jasad ini

Menunggumu…
Seperti rintik yang mengawali hujan
Sebentar turun dan reda lagi

Menunggumu…
Ada yang kembali ke sini
Tapi sebelummu datang
Dia bilang engkau tak sempat menghadiri pemakaman.

Padang, Oktober 2009
(Enam hari pasca gempa Sumbar)
 

Ketika Tuan Kembali


Sekembalinya tuan ke negeri ini
Dalam gumam yang pelan-pelan kami lantunkan
Senandung yang menari di atas genangan
Dalam subuh berpintukan fajar menemukan kehangatan mentari
Tapi tercabik jua bendera
Tak lama sebelum tuan kembali

Di hari-hari bersejarah bumi ini
Sedang hari  mengeluh letih
Menaungi serombongan ternak yang rusuh karena cuaca panas
Tuan datang kembali
Ke bumi yang penat menopang neraka dunia ini
Sambil ternganga mendapati kami mencekik diri

Hai Tuan yang telah lama pergi dan baru kembali!
Jumpailah rumah tuan ini
Kami menanti
Sambil terus mencekik diri

Padang, April 2010
 

Cerpen: LELAKI CANGKUL


Yulmaida Al Manthani (FLP Sumatera Barat)

“Uda belum hendak menikah?”
Aku bertanya pada lelaki itu dengan hati-hati.
“Setiap lelaki dan perempuan dewasa memiliki keinginan untuk menikah, Li. Kita cuma disuruh berikhtiar dan berdoa.”
Kali terakhir aku bertanya tentang pernikahan kepadanya. Aku tidak berani lagi. Selain lancang, aku juga akan menyakiti hati lelaki itu.
***
Sebagai lelaki aku tak pungkiri pesonamu, tetapi sebagai lelaki akupun memiliki harga pada diriku yang patut engkau perhitungkan. Jika keindahanmu masih engkau utamakan, aku akan berbalik pergi tanpa peduli aku akan kehilangan kesempatan memilikimu. Maka kemarilah bersamaku, tinggikan mulia pribadimu hingga aku relakan darah kita tumbuh kembangkan generasi.
Sebagai lelaki, pengorbanan apapun akan aku usahakan agar engkau menjadi ratu dalam hatiku. Menjadi pendamping dan temanku berlayar. Tidak menjadikan raja sesiapapun yang akan runtuhkan harga yang telah aku bangun ini. Tetapi maaf bila engkau menghamba pada kemilaunya dunia, berikan aku waktu untuk berfikir ulang lagi tentang keseriusanku ini. Mengapa engkau bekerja sebagai petani? Kembalilah ke kota, dan kita jadikan hidup kita lebih modern, itu permintaanmu. Maaf, usahamu menjadikanku pelindung sepertinya akan sia-sia.
Maka sebagai lelaki, kutegaskan sekali lagi kepadamu, biarlah aku gagalkan usaha ini dari awal sebelum memintamu kepada pelindungmu, ayah ibumu. Aku sudah memikirkan kehendak hati untuk bersahaja. Tidak denganmu. Karena kutahu hidup sesudah ini mungkin akan menyiksamu. Tetaplah di sana. Untuk menunggu lelaki kota meminangmu.
Bunyi cangkul yang sesekali beradu dengan bebatuan. Musik yang bersumber dari  aliran air di jenjang-jenjang sawah meninabobokan kerbau di kubangan. Selalu, si pencari kutu itu hinggap di badan tegapnya. Aih jalak itu, dia berdiskusi dengan inangnya. Meski sang inang sedang bermimpi. Tapi lagaknya menolehkan kepala ke belakang dengan kaki terlipat. Aku tahu bahasa binatang lebih diplomatis. Buktinya si jalak cepat diterima. Simbiosis yang menarik. Ingin aku kabarkan kepada pemilik cangkul bahwa mereka tidak bodoh. Mereka cerdas memahami keinginan.
“Sebentar lagi, Uda. Nasi sedang ditanak amak”
Si pemilik cangkul hanya tersenyum. Aku selalu kesulitan menerjemahkan maknanya. Bukankah senyum itu makna keikhlasan. Lalu mengapa di buku hariannya yang sempat terbaca olehku, aku temukan firasat buruk tentang ketidakrelaan penderitaan. Seperti benang basah yang kepayahan untuk tegak. Aku menjadi takut jikalau si pemilik cangkul itu sepuluh tahun lagi akan menjadi benang yang basah. Gumamku disertai pandang ke langit. Seekor elang menukik laksana sebuah kilatan hitam.
“Tolong bawakan cangkul Uda, Uda mau memeriksa pautan kabau dulu.”
Seperempat jam kemudian kami sudah duduk berhadap-hadapan di atas tikar yang digelar amak. Amak, perempuan keibuan pengganti orangtuaku yang terlebih dahulu dipanggil dari dunia ini. Bagiku amak lebih dari sekadar ibu. Suatu hari aku bergurau tentang pengganti apak. Maka amak menarik kupingku dengan lembut. Tidak sakit tapi aku merajuk sambil memegang tangan beliau.Tapi jika orang tua menahan kehendak, amakpun begitu. Seraut kenormalan kembali hadir. Amak wanita istimewa bagiku, juga bagi lelaki cangkul itu. Ah, rasanya terlalu kasar bila kujuluki dia lelaki cangkul. Tapi permintaannyalah yang memberanikan diriku menjulukinya begitu.
“Uda bukan lelaki hebat, Li. Uda pernah ditipu orang dalam perdagangan. Uda pernah ditolak kerja di sebuah perusahaan karena bercerita masalah keluarga ketika wawancara kerja. Uda pun pernah menggigil ketika naik mimbar saat disuruh jadi khatib Jum’at. Namun uda tidak akan menggadaikan prinsip hanya untuk memulai berlayar di samudera luas dengan seseorang. Bagi uda cukuplah kesempatan demi kesempatan berlalu dengan indah tanpa dipaksakan memasukinya hanya karena cemas tidak memperolehnya lagi. Uda bangga memikul cangkul ketika berjalan. Uda bangga mengayunnya. Uda tidak ingin hidup uda diatur keinginan orang.”
Dalam. Begitulah lelaki cangkul itu. Akankah lelaki itu sepuluh tahun lagi menjadi benang basah tanpa bisa memasuki lobang jarum? Akupun bermimpi menatap lelaki yang berdialog hanya dengan panggang matahari itu menjahit luka-luka jiwa. Dengan cepat kuhabiskan nasi di atas piring lalu bersendawa kekenyangan. Lelaki cangkul itu menegurku pelan lalu mengajakku shalat Zuhur di mesjid. Dengarlah kawan, lelaki ini didikan amak. Mungkin engkau tidak percaya, dulu dia pernah hampir OD dan menjadi penghuni pusat rehabilitasi.
“Uda pernah minum alkohol, Li. Uda pun pernah makai. Tapi sekarang uda sudah pecahkan gelasnya. Sekarang Uda minum dengan tempurung.”
“Benarkah, Da?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Tentu saja tidak.”
Kami pun tertawa. Barangkali saja seperti minum air daun kawa yang dihidangkan dengan tempurung kelapa lengkap dengan beberapa potong bika. Hidangan khas salah satu tempat di daerah Lima Puluh Kota.
Tiga bulan yang lalu sekembalinya dari Jatinangor, aku sibuk mencari kerja ke sana kemari. Menulis berpuluh-berpuluh surat lamaran kerja. Aku sering melontarkan candaan kepada uda.
“Sudah kuliah, kok makin merasa bodoh ya, Da? Jangan-jangan pengetahuanku diserap dosen.”
“Nyangkul aja, Li.”
“Ogah ah.”
“Lho, kenapa? Halal lho, Li.”
“Uda akan kalah saingan. Aku bisa jadi lelaki cangkul nomor satu di kampung ini.”
Aku dan lelaki melankolis itu sama-sama tertawa. Entah menertawakan apa. Kesedihan terasa sirna sebentar akibatnya.
***
Sebagai lelaki, bukankah sudah kusampaikan niat mulia ini. Aku tentang dengan berani mata ayahmu. Aku katakan, akan menggantikan posisi dan peran beliau terhadapmu. Terlalu lancangkah permintaan ini? Kuhormati engkau sebagai wanita yang berasal dari tulang rusukku ini. Sebagai lelaki, ingin kujadikan engkau cahaya rumahku kelak. Bagian mana yang belum engkau mengerti tentang keinginan ini dan hidup bersahaja yang kujanjikan? Kerudungmu membuatku tidak tega menvonis sesuatu yang buruk tentangmu. Tapi ingin kukatakan, tak akan ada perhiasan untuk pergelangan tangan dan telingamu yang selalu tertutup itu. Tak bisa kujanjikan kehidupan yang bahagia, tapi aku menjajikan akan berusaha membangun kebahagian. Dan sebagai lelaki, aku wajib melindungimu dari kesedihan. Mungkin, jika engkau sedia jadi tempat berbagiku.
Aku tahu lelaki itu sedang bersenandung di hatinya. Di atas batu besar di tengah sawah yang sudah selesai dipanen. Kira-kira jam sepuluh dia akan istirahat melepas lelah di sana. Kadang-kadang dia pulang sebentar ke rumah untuk shalat Dhuha. Aku juga tahu ada sebuah harapan yang sedang meledak-ledak di dalam dirinya. Tidak pernah tergurat di dahi hitamnya segaris keputusasaan pun. Dan sebagai seorang adik, suatu keharusan bagiku untuk membantunya mengusahakan harapan itu.
Inilah yang kusebut benang basah, saat kudengar sendiri dari kedua bibirnya yang sudah bebas nikotin itu pernyataan tidak ingin lagi. Aduhai, alamat mana yang harus kupercaya? Pernyataan ini ataukah sorot keyakinan dari matanya itu. Yang jelas suatu hari aku menyaksikannya kembali mengenakan kemeja batik dan celana hitam polos. Ketika kutanya, dijawab dengan kerling mata penuh makna. Kusimpulkan, sebenarnya aku tidak perlu bertanya. Dia berusaha lagi. Doaku mengalun pelan untuk keberhasilannya.
Entah yang keberapa kalinya, kulihat raut kekecewaan sepulangnya lelaki itu dari rumah yang dituju. Aku dan amak tak berani bertanya sebab kami sudah sama-sama tahu apa yang harus dilakukan. Kukunci seluruh jendela saat azan magrib berkumandang dari menara masjid, mengetuk pintu kamarnya serta mengajaknya ke masjid. Lelaki itu, akhirnya menjadi semakin tahu usia pelan-pelan merambat naik secara vertikal, mengurangi peluang demi peluang.
***
Ketika usia ini sudah memasuki kepala empat, lampu-lampu kejayaan masa muda satu persatu mulai padam. Kesempatan untuk mencari semakin menjadi suram. Masa depanku terlalu buram untuk kulukis lagi. Tak banyak yang bisa kuharapkan selain menanti pertemuan. Entah dengan siapa? Kriteria demi kriteria menjadi mengerucut. Ataukah mestikah kusederhanakan lagi demi mendapatkan seseorang yang menjadi penawar rasa sakitku. Yang akan mendidik anak-anak kelak.
Meski aku pernah surut untuk tetap memiliki kehendak, tetapi sebagai lelaki aku telah lama menjadi baja. Tidak menjadi tersiksa dengan bantingan dan deraan. Baja itu semakin kuat. Tidak peduli lagi rasa sakit yang ada. Meski baja itu diam, tapi aku ingin orang-orang tahu, batinku tidak diam. Aku masih berfikir untuk mendapatkan seorang bidadari. Barangkali pada masa-masa terakhir.
Cuti kerja tahun ini kumanfaatkan untuk membawa istri dan si kecil Farah ke rumah almarhum amak. Lelaki itu, berwajah semakin cerah. Candanya juga menjadi lebih renyah. Digendongnya Farah dengan wajah bersinar dan mencium pipinya berulang kali. Rasa hendak turun air mataku saat itu juga. Aku masih mengetahui satu hal. Lelaki itu tidak pernah putus berharap.
Belum lekang di ingatanku keadaan lelaki itu tiga tahun yang lalu setelah amak meninggal. Kuyu, tirus, pendiam, dan lebih sering mengurung diri di bilik. Sering aku dapati lelaki itu menulis catatan hariannya di atas kasur lalu kemudian tertidur menelungkup. Terkadang harus kubangunkan lelaki itu untuk mengisi perut. Ataupun hanya sekedar memperbaiki posisi tidurnya yang menyesakkan dada itu. Kukhawatiri kesehatannya hingga aku putuskan untuk melepaskan kesempatan bekerja di sebuah perusahan kimia di Bandung.
Sebelum aku menikah, kuminta kerelaan hatinya untuk kudahului. Lelaki itu hanya menepuk pundakku seraya berkata, ”Jangan khawatirkan Uda. Uda tidak pernah merasa cemburu pada takdir orang lain.”
Setelah menikah pun aku harus pamit padanya untuk meninggalkan kampung halaman. Meski masih kukhawatiri kondisinya yang sangat labil itu. Kalimat yang sama keluar lagi dari mulut lelaki itu. Aku tidak menyadari butiran hangat telah mengelinding di pipiku. Tetapi lelaki tidak boleh menangis. Hanya wanita yang boleh menangis.
Cuti kali ini akan kutunaikan keinginan untuk mewujudkan harapannya itu. Kubawakan foto seorang sahabat. Secara fisik sesuai kriteria. Menggunakan kerudung dan memiliki pergaulan yang baik. Yang pasti, shalatnya tidak pernah tinggal. Kriteria yang cukup simpel barangkali. Benang basah itu telah mengering. Dia bersiap memasuki jarum dan menjahit luka-luka itu. Kupersiapkan keberangkatan lelaki itu ke kota tempat aku bekerja. Kuhubungi sahabat itu untuk bersiap melakukan ta’aruf singkat. Lelaki itu tetap gagah, aku yakinkan kota kembanglah tempat sang lelaki bertemu jodohnya.
“Uda yakin?” bodohnya aku masih bertanya.
“Yakin dengan apa,Li?” lelaki itu balik bertanya sambil tetap menggendong si kecil Farah yang semakin akrab saja dengannya. Jemarinya mengelus-ngelus kepala Farah dengan lembut. Aku terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang pas. Meski akhirnya aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu.
“Li, uda tidak memaksa kalau harus merepotkan adik uda. Bukankah Uda sudah kenyang dengan penolakan-penolakan? Uda tidak pernah lagi merasakan lapar, Li. Setiap hari memang Uda berdoa dipertemukan dengan jodoh uda. Uda berusaha mengerucutkan kriteria. Tapi Uda tidak salahkan takdir bila akhirnya uda memang harus sendiri. Jika kali ini uda gagal. Uda tidak menyesal pernah mencoba.”
“Semoga kali ini berhasil, Da.”
“Amin.”
Dan si burung besi pun membelah angkasa menerobos awan putih.
***
 Di usia 43 tahun ya Allah, akhirnya hamba akan menyempurnakannya. Sesuatu yang tidak lagi hamba fikirkan bisa terwujud. Terimakasih ya Allah, telah engkau perkenankan hamba bertemu dengan si pemilik senyum manis itu. Selesai akad akan kubisikkan di telinganya, “Engkaulah bidadari yang akan lahirkan cinta di bawah atap rumah kita, di sisa usia.” Romantisme yang terlambat, namun aku bergetar menanti waktu itu tiba.
“Fadli.”
“Ya, Da?”
“Satu hari lagi, ya?”
Kudongakkan kepalaku menatapnya. Lelaki itu duduk di sampingku yang menatap kolam ikan di samping rumah. Aku tahu apa yang dirasakannya. Dua tahun yang lalu aku juga merasakan hal yang sama. Meski aku termasuk lelaki yang terlambat menikah. Sepertiku dulu, lelaki itu juga bisa tersipu. Wajahnya berseri memerah. Rasa gugup yang wajar barangkali. Besok, jiwa lelaki inilah yang paling bahagia di atas bumi ini.
Beberapa hari ini kurasakan perubahan besar dari diri lelaki itu. Lebih terbuka, sering bercerita, mendahului obrolan, dan selalu tersenyum. Karakter asli yang bersembunyi di dalam dirinya selama ini dengan sangat rapi. Lelaki yang suka bercerita kepada buku hariannya itu, satu hari lagi akan meniadakan kesendiriannya.
***
Dedaun telah berguguran semenjak tanah merah basah ini ditinggal penta’ziah yang berbalik pulang. Aku tahu ini purnama terakhir bagiku. Setelah ini tak akan kubiarkan keinginan itu muncul lagi. Biarlah menjadi catatan sunyi yang diterbangkan angin usia. Telah tenggelam purnama seiring perjalanan hidup yang tinggal beberapa langkah lagi.
Teman, hari bersejarah itu memang tiba. Bersejarah baginya dan juga bagiku. Bersejarah untuk dikenang karena lelaki itu akan mengetahui maksud Allah menjadikannya tetap membujang seumur hidup. Sang gadis sahabatku itu, diambil pemiliknya lewat sebuah serangan jantung, pagi sebelum akad dimulai. Dan sang lelaki, sejak saat itu mulai sakit-sakitan. Mungkin benang basah itu benar-benar telah hanyut karena gagal bertemu jarumnya.
Pertanyaan yang sedari dulu tetap menghuni ruang batinku tentang dua orang yang telah memiliki niat suci untuk menikah namun terhalang ajal. Jika tidak di dunia, mungkinkah mereka bersatu di sana? Aku berharap kelak mereka berjumpa untuk menunaikan niat yang dulu tertunda.

Padang, 26 Maret 2011
 

Masjidku, masjidmu, dan Kaum Ekspatriat

Di hari yang cukup menegangkan dalam ‘pelarian’ itu, kami bertiga melintasi sebuah mesjid. Bentuknya sama dengan mesjid yang lain. Tapi ada dua hal yang membedakannya dari rata-rata mesjid di kota ini. Pertama, di sana banyak eskpatriat. Barangkali mereka sudah turun temurun dari masa lampau. Dari zaman yang kita tak berada di dalamnya. Di tempat yang sama sekali tak terpinggirkan, namun tak cukup banyak orang mengetahuinya.

Di perlintasan itu kami terpesona sejenak. Serasa berada di Timur Tengah atau Negara Anak Benua. Lelaki dan wanita berhidung mancung dengan kulit gelap dan tubuh tinggi tegap. Kusimpulkan kaum mereka di sini sejak dari masa yang tidak kita jamah, sebab mereka sangat fasih berbahasa Minang. Mungkinkah mereka India Keling di Padang yang sering disebut-sebut orang tua-tua kita dahulu? Aku tidak tahu pasti. Yang pasti di sana juga ada orang-orang berwajah Timur Tengah lengkap dengan janggut lebat dan peci.
Kami masih berada di sekitar sana ketika mu’adzin mengumandangkan adzan sehingganya mesjid itulah tempat persinggahan kami selanjutnya. Pesona berikutnya memancar dari ruangan bercat dan berubin putih yang tidak terlalu luas itu. Semacam rasa takjub kemudian mengalir di hati kami. Melihat toilet dan tempat wudlu yang sangat bersih meski jauh dari kesan mewah. Lantai mesjid yang bersih, kain hijab berwarna hijau yang tak kalah bersihnya. Sesuatu yang unik juga kami dapati dari pemasangan hijau. Mereka memasang hijab untuk wanita di segala sisi membentuk bujursangkar dengan mengikatkan talinya ke besi yang dipasang di tiang-tiang mesjid. Sehingga kita merasa nyaman shalat dengan tak terlihat sedikitpun oleh laki-laki yang melewatinya. Kami saling mengatakan, demikianlah seharusnya.
Kami tidak cukup lama berada di sana. Tapi sebuah pencerahan tiba-tiba saja mememenuhi pikiran. Sesuatu yang berbeda kadang menjadi terpinggirkan dan tak dikenali. Tak dikunjungi dan tak dipedulikan. Mungkin ini bagi sebagian orang adalah hal yang sepele. Tapi bukankah kita selalu terganggu dengan aroma menyengat toilet di masjid-masjid kita? Bukankah kita sering mengeluh dengan bau mukena masjid yang membuat kita cukup teler. Salah seorang teman mengatakan, mana bisa khusu’ kalau mukenanya bau kaya gini?
Kita merasa terganggu setiap hari, setiap berada di rumahNya. Tempat kita menyambungkan pikiran dan hati kita pada Sang Khaliq. Bahkan setiap selesai shalat, banyak jama’ah maota lamak dengan frekuensi yang tidak kepalang tingginya. Tertawa keras di sela-sela pembicaraan mereka. Mesjid seperti dijadikan tempat reuni selesai shalat. Tempat bergosip oleh dua orang sahabat dekat yang sama-sama membenci satu orang. Astaghfirullahal ‘azhiim!
Sehingganya setiap selesai shalat ketika beranjak keluar dari sebuah mesjid, kami sering berkata dengan sangat jengkel, “Ih WC masjidnya bau sekali” bukan perkataan seorang yang memberikan solusi. Karena jujur, banyak dari kita tak pernah berbuat sesuatu untuk masjid manapun. Hanya infak beberapa ribu yang kita harapkan mampu menghilangkan kesempitan hidup.
Entah bagaimana dengan negara-negara lain? Konon kabarnya mesjid-mesjid di negeri Kinanah sana memiliki toilet dan tempat wudlu yang tak kalah kotornya. Salah seorang teman yang pernah kuliah di Al Azhar University pernah menceritakannya padaku. Sehingga kalau ia pergi shalat ke masjid, ia harus wudlu dulu di rumah. Entah apa yang membuat fenomena yang semacam ini begitu kontras dengan kalimat yang dikutip oleh seorang ustadz yang baru saja berkunjung ke Mesir dan Palestina beberapa sekitar 3 bulan yang lalu. Jika ada orang yang ingin belajar akhlaq, maka pergilah ke Mesir. Ustadz tersebut juga menyatakan keheranannya.
Mungkinkah ini warisan Mubarak yang berpuluh-puluh tahun menjalankan kediktatoran yang melahirkan bangsa yang kotor dan kasar? Bersyukur kita mendengar hari ini di sana sudah dipimpin oleh Mursi yang sangat bersahaja itu. Beliau tinggal di rumah kontrakan yang sederhana untuk seorang presiden. Inilah pemimpin yang diisyaratkan Rasulullah. Yang tidak ingin berbeda dengan rakyatnya. Inilah pemimpin yang berambisi menegakkan syariat Islam sehingga seorang ulama salafiyah terkenal di negara itu ikut dalam aksi turun ke jalan yang dihadiri oleh jutaan orang. Dalam orasinya, ulama tersebut memuji kebijakan Mursi ini.
Ah, teman. Ternyata banyak. Sangat banyak yang mesti kita benahi. :(
Oh ya, aku hampir melupakan sesuatu. Ketika pertama kali melihat mereka, kepalaku hampir menabrak tiang-tiang besi di depanku saking terpesonanya melihat kumpulan ‘India Keling’ itu. Sehingga salah seorang mereka yang sedang memasang hijab mesjid itu berteriak mengingatkanku.
#Oleh-oleh dari 'pusat kota'
Padang, 8 November 2012
 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Yulmaida al Manthani - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger